Lupa

Faktor U!
Alias faktor usia katanya kalau kita seringkali lupa akan apa yang baru kita kerjakan.
Seperti itulah hari hariku belakangan ini.
Bukan hal yang aneh, begitu aku melangkahkan kaki keluar pintu rumah tiba tiba aku berbalik lagi hanya untuk memastikan apakah pintu rumah telah aku tutup. Hal paling konyol tak mau terulang lagi, seperti empat tahun yang lalu karena kami semua lupa menutup pintu dan mendapatkan secarik kertas dari tetangga sebelah rumah yang menuliskan bahwa dia mendapatkan pintu rumah kami terbuka lebar dan dengan keiklasannya dia telah menutup pintu rumah kami. Tentu saja hal yang aneh jika rumah kami terbuka lebar karena rumah kami tak mempunyai halaman, begitu kita membuka pintu rumah maka kita akan melangkahkan kaki ke trotoar, dimana orang orang berlalu lalang.

Urutan nomor dua, dimana aku kadang ragu dengan apa yang telah aku lakukan adalah mematikan kompor setelah memasak. Aku pernah balik lagi ke rumah setelah jauh berjalan hanya untuk memastikan apakah kompor sudah dimatikan atau belum. Dengan kejadian tersebut aku selalu berkata pada diri sendiri dengan suara yang telah dikeraskan…. lihat api telah padam! Aku juga tak jarang meminta tolong pada Luc untuk turun ke bawah setelah kami  siap di  tidur hanya untuk melihat apakah kompor telah mati.

Dan hari senin kemarin aku membuat ketan lupis, aku kasih kabar pada tetanggaku bahwa aku akan membawakan ketan lupis untuknya, dan jawabannya membuatku lemas luar biasa…… Ja, lekker! Cocok untuk buka puasa nanti!

Seketika itu juga mulutku terasa seret, aku melihat jam di dinding, menunjukan pukul 10 pagi, dari bangun tidur aku baru minum air teh seteguk saat ketan lupis telah selesai aku mencobanya, dan ketan lupis yang tengah aku makan seketika tersangkut di tenggorokanku.

Ya, Tuhan bagaimana aku lupa pada puasa satu hari sebelum Idul Adha tiba? Puasa yang selalu aku jalani semenjak aku di Indonesia, dan tetap aku jalani setelah aku tinggal di  Belanda, dan padahal beberapa hari sebelumnya aku selalu mengingatkan diri sendiri untuk tidak lupa menjalankan ibadah puasa di hari senin ini.

Di hari sabtu lalu, aku jalan berdua hanya dengan Cahaya, sementara Luc menunggu Cinta yang tengah terbaring sakit. Cahaya ingin memberikan kado untuk Cinta Yang tengah sakit, maka kami keluar masuk toko hanya untuk memilih kado yang ingin Cahaya berikan untuk Cinta, dari tiga toko yang kami datangi tak satupun ‘cocok’ menurut Cahaya, kemudian kami memutuskan makan di warung Indonesia, kami memesan satu portie makan siang yang berisi nasi kuning, dan lauk pauknya. Selesai makan tak lupa aku membungkuskan beberapa makanan Indonesia kegemaran Luc dan satu bungkus rempeyek untuk diriku sendiri. Dari situ aku masih ke toko roti, dan masih berbelok ke toko pakaian dilengkapi berbagai macam barang kelontong, hanya untuk membeli kado Cinta yang belum berhasil kami beli. Karena Cahaya tetap tak menemukan barang yang dia mau (dia ingin memberikan boneka Ariel untuk Cinta) maka aku memutuskan memberikan buku mewarnai untuk Cinta dan Cahaya dan langsung disetujui oleh Cahaya.

Kemudian kami berjalan pulang, tak henti hentinya Cahaya bercerita bahwa dia senang sekali dengan apa yang kami lakukan berdua, katanya…. Bunda, saya senang sekali berjalan jalan berdua denganmu….. Terima kasih sayangku, ucapku terharu.

Sampai rumah, Cahaya dengan antusias memberikan kado buku mewarnai untuk Cinta, sementara aku berteriak heboh karena satu tas plastik tak berhasil aku temukan, tas plastik berisi frekandel lombok untuk Luc dan sebungkus rempeyek untukku. Aku mengingat ngingat aku masih menenteng keresek plastik berisi makanan tersebut saat di toko roti karena aku ingat betul aku meletakannya di meja toko roti saat aku membayar roti, dan menentengnya kembali saat keluar dari toko roti, pikirku pastilah keresek plastik itu tertinggal di toko saat aku sibuk memilih buku mewarnai untuk Cinta.

Dan ter update kehebohanku akibat penyakit lupa terjadi pagi kemarin. Setelah kami terburu buru masuk mobil dan berhasil berada di sekolah Cinta Cahaya sebelum bel berbunyi, tiba tiba Cahaya berteriak dengan keras… Bunda mana tas sekolahku?

Aku melirik ke arah Luc, meminta kembali ke rumah untuk mengambil tas Cinta dan Cahaya. Seperti sebuah peraturan tidak tertulis, saat kami keluar rumah mengantarkan Cinta Cahaya ke sekolah, Luc akan keluar lebih dulu bersama anak anak, mendudukannya di mobil, memasangkannya safetybelt, sementara aku membawakan tas cinta cahaya dan mengunci pintu rumah.

Dan pagi itu, dalam perjalanan menuju sekolahku, aku dan Luc terbahak bahak menceritakan beberapa kejadian menyebalkan akibat penyakit lupa itu, Luc kembali mengingatkanku untuk kembali membaca buku sebelum aku tidur, karena menurutnya membaca buku menghindarkan dari penyakit lupa dan minum vitamin yang memang harus aku makan satu kapsul setiap pagi. Sementara aku kembali mengingat sebuat doa yang diberikan guru di mushola untuk dibaca setiap habis selesai sholat  untuk menghindarkan penyakit lupa, sambil kembali merasa di ingatkan akan janji pada ibuku yang pernah bilang, coba hapalkan nama nama Allah, Insya Allah akan dihindarkan dari penyakit lupa.

Rotterdam, 17-10-2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s