Listen with Our Heart

Dan hari itu, begitu terasa sepi.

Tak terasa aku (dan mungkin seperti biasanya) jika sepi melanda aku menekan satu (atau dua) nama di daftar teleponku. Ya, hampir tiga minggu lamanya kami tak bertukar sapa, sama sama sibuk atau mungkin tak merasa sepi, adalah dua hal yang hampir bias.

Aku segera, menuliskan kata pembuka percakapan, hai… Tanda tak terkirim terlihat di teleponku, aahhhhh sedang tidak ada koneksi, pikirku kecewa. Tapi sebuah bunyi tanda jawaban segera muncul dari nomor yang lain, dan sapanya …. Hai apa kabar, ini nomorku yang baru, aku bari ganti nomor setelah dua minggu aku tanpa handphone karena handphoneku hilang.

Who are you?
Ah tentu saja tak perlu kutanyakan siapa dia, tentu saja dia temanku yg baru kukirim kata pengantar percakapan. Satu hati pikir kami kemudian, mana tahu dia bahwa aku baru saja mengirimkan sapaan untuknya dan disaat yang sama dia sedang mengirimkan teks untukku.

Dan tentu saja, aku tak merasa sepi lagi sibuk berhaha hihi, dan tiba tiba aku dikejutkan oleh bunyi bel pintu. Saat aku membuka pintu seorang teman tengah berdiri disana, bukan sahabatku di Indonesia yang selalu ku kirimkan teks jika aku sedang gundah gulana, tapi seorang yang nyata di Balanda. Hah! Dengusku di depan mukanya, datang ke rumah orang tanpa kasih kabar dulu? Dan ucapnya sambil melangkah masuk, mana mungkin aku tak datang menghiburmu….
Musim gugur? Udara dingin menusuk? Yang sedang menghitung hari untuk mencapai angka 40? Suara serak saat aku telepon? Dan nada gamang dlm setiap ucapanmu? Apakah aku salah menilai, my dear?
Lanjutnya secepat kilat sambil melewatiku yang sedang terbengong bengong.

Aku memandang punggunya yang sedang naik ke atas tangga rumahku.
Tersenyum penuh syukur. Merasa takjub dengan kedatangannya, dia…. selalu membuatku terkejut up and down.
Tuhan, begitu banyak pertolonganMu, KasihMu begitu tersebar dimana mana, bahkan bisa datang begitu saja masuk ke rumahku.

Dan alunan lagu dari film Beauty and the Best, mengalun pelan dalam benakku, setiap kali mendengarnya, bathinku berkata… this song is so true, tapi kini aku bisa melihat kebenaran di balik lagu menyakitkan ini.

I can hear you, you can hear me 
When we listen with our hearts 
I understand you, you understand me 
That’s the place where we can start 
Words of kindness and forgiveness 
Bring us closer, not apart 
When we speak our minds 
And listen with our hearts 

Terima kasih kawan!

There are times I think
That no one seems to listen

There are times I think they listen
but don’t hear
There are times I think they hear
But something’s missing
The thoughts behind the words aren’t clear
So, I think they’re saying
something they’re not saying
They think I mean something
I don’t mean at all
Do we raise our voice miscommunicating?
Or simply say nothing at all
Is there another way to say it
In a way that can be heard?
Let me see if I can put it into words

I can hear you, you can hear me
When we listen with our hearts
I understand you, you understand me
That’s the place where we can start
Words of kindness and forgiveness
Bring us closer, not apart
When we speak our minds
And listen with our hearts

I can hear you, you can hear me
When we listen with our hearts
I understand you, you understand me
That’s the place where we can start
Words of kindness and forgiveness
Bring us closer, not apart
When we speak our minds
And listen with our hearts
And listen with our hearts

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s