Mari Sekolah

werkweek groep 8 Albert Schweitzerschool

werkweek groep 8 Albert Schweitzerschool

What? Cinta Cahaya udah masuk SD?

Apa mereka sudah bisa baca?

Berapa biaya yang habis untuk masuk SD? Uang pendaftaran dan lain lainnya?

Dan beberapa pertanyaan bertubi tubi lainnya dari beberapa temanku di Indonesia seputar Cinta dan Cahaya yang  telah masuk Sekolah Dasar.

Dari beberapa temanku itulah kini aku tahu bahwa umumnya anak anak yang akan masuk SD diharuskan bisa baca sebelum masuk sekolah,  tak hanya sekolah favorit yang daftar tunggunya  panjang, bahkan sekolah disekitar mereka tinggal pun menerapkan peraturan yang sama bahkan ada beberapa sekolah yang mengadakan test masuk sekolah segala.

What? Test masuk untuk anak SD? Bukankah mereka baru masuk sekolah? Mengapa harus ada test masuk segala?

Ya, karena daftar tunggunya yang sungguh berjubel, siapa yang dapat nilai terbaik merekalah yang bisa duduk di sekolah tersebut. Maka bermunculanlah sekolah favorit dan non favorit.

Keterbelalakanku pun semakin menjadi, begitu mendengar dari beberapa temanku yang bercerita mereka sampai menghabiskan uang yang sungguh fantastis (menurutku) untuk bisa masuk Sekolah Dasar, uang pangkal menurut mereka, sumbangan uang bangunan, uang seragam, uang buku dan lain lain.

Sungguh aku tercengang mendengar penjelasan dari temanku, sungguh sabar orang orang yang tinggal di Indonesia itu pikirku, untuk bisa masuk Sekolah Dasarpun mereka harus berjuang dan berpikir untuk memberikan yang terbaik untuk anak anaknya.

Di lain sisi, menurut temanku yang guru TK, dia mengalami dilema. Dia tahu bahwa menurut ilmu phisiologi tak baik mengajarkan anak anak membaca dan berhitung di TK, tapi tak ada pilihan lain baginya untuk mengajarkan itu karena anak anak sekarang dituntut sudah bisa membaca dan berhitung jika akan masuk SD. Dan menurutnya dia harus pandai pandai mengajarkan anak anak didiknya untuk bermain sambil sesekali disisipi pengenalan huruf dan angka, sehingga diusahakan agar tuntutan bermain sambil belajar tercapai.

Ok, mari lupakan sejenak tentang apa yang terjadi di Indonesia sana. Mari mengenal sedikit sistem pendidikan disini (Belanda). Dan aku akan bercerita tentang yang aku alami bersama Cinta Cahaya.

Cinta Cahaya sudah masuk sekolah saat usia mereka dua tahun, namanya  peuterspeelzaal atau biasa disebut playgroup di Indonesia. Berada di peuterspeelzaal hanya tiga jam saja dalam sehari selama 4mpat hari dalam seminggu. Mereka yang berada di Peuterspeelzaal berusia 2 hingga 4 tahun. Berada dalam satu kelas sebanyak 10 hingga 15 anak dengan dua orang pendamping dewasa atau guru. http://nl.wikipedia.org/wiki/Peuterspeelzaal

Biaya yang dikeluarkan bervariasi disetiap peuterspeelzaal, dan kami membayar 16 euro per bulan, biaya itu sudah termasuk minum susu, buah buahan dan kue kering disetiap mereka masuk sekolah. Setiap hari jumat orang tua boleh berada di kelas hingga pukul 9 pagi, menemani putra putrinya di kelas sambil melihat perkembangan mereka di kelas para orang tua juga disediakan kopi dan teh.

Sebelum usia mereka empat tahun, kami sudah mendapat surat pemberitahuan resmi dari pemerintah untuk tidak lupa segera mendaftarkan Cinta dan Cahaya di sekolah dasar (surat itu datang pada saat usia mereka dua tahun setengah), informasi mengenai sekolah dasar, dan mereka meminta anak anak sudah terdaftar di satu sekolah sebelum usia mereka 4 tahun, jika belum maka mereka akan membantu untuk mencarikan sekolah bagi Cinta Cahaya, surat tersebut disertai dengan site site informasi mengenai sekolah dasar.

Setelah kami mendapat surat pemberitahuan tersebut, aku dan Luc segera mengirim email ke beberapa sekolah dasar untuk membuat janji sekiranya kami bisa melihat lihat sekolah tersebut, disini disebut dengan istilah roundlopen. Reaksi dari beberapa sekolah sungguh sangat cepat, selang sehari dari kami mengirim email, mereka beraksi dan mengirimkan balasan dengan memberikan jadwal kapan kami harus datang untuk melihat sekolah itu, hari tanggal dan jam hingga contack person yang harus kami temui sungguh jelas. Bahkan satu dari sekolah yang kami kirimi email langsung menelepon dan membuat janji  kesepakatan kapan kami harus datang melalui telepon. Selang sehari brousur hingga undangan datang ke alamat rumah kami, informasinya sungguh jelas hingga visi misi dan agenda kalender untuk tahun depan pun mereka kirimkan.

Disini, untuk masuk Sekolah dasar tidak harus menunggu hingga tahun ajaran baru tiba, mereka akan dikirim dari Peuterspeelzaal menuju sekolah dasar tepat pada saat mereka berulang tahun. Usia empat tahun. Tak perduli bulan januari, maret atau desember mereka berulang tahun, pada bulan itulah mereka akan dikirim ke sekolah dasar.  Dan mereka akan ditempatkan di group een (1), groep 1 dan 2 disebut juga dengan sebutan kleuterschool atau kleutergroep, usia yang duduk di kleutergroep mulai 4 hingga 6 tahun. Di Indonesia bisa dikenal dengan sekolah TK. http://nl.wikipedia.org/wiki/Kleuterschool. Disini jelas disebutkan bahwa di groep 1 dan 2 anak anak hanya bermain, musik dan knutselen (lebih dikenal dengan istilah kerajianan tangan, melipat, menggunting, dll)

Saat kami untuk pertama kalinya roundlopen (berkenalan ke sekolah dasar) aku bercerita bahwa Cinta Cahaya sama sekali belum mengenal huruf dan angka, bahkan untuk menghitung satu hingga sepuluhpun mereka belum mengenal sama sekali. Dan orang yang membawa kami mengelilingi sekolah tersebut terbahak saat aku bertanya, apakah tidak apa apa karena mereka belum mengenal huruf dan angka sama sekali? Dan jawabnya, tentu saja tidak masalah karena sekolah akan mengajarkan mereka membaca, dan berhitung saat mereka berada di groep 3 atau kelas satu SD jika di Indonesia.

Dan kini sudah 3 minggu Cinta dan Cahaya bersekolah di Bassisschool atau sekolah dasar. Lima hari dalam seminggu. Pintu kelas dibuka dari pukul 08.15 dan kami diberi kesempatan lima belas menit untuk berada di lingkungan sekolah, pukul 08.30 para orangtua harus keluar kelas dan harus menjemput kembali pada pukul 3 sore. Empat kali dalam seminggu mereka senam (gym). Groep 1 dan 2 hanya mengenakan baju dalam saja saaat mereka senam, sepatu gym pihak orangtua yang harus menyediakannya, sepatu diberi nama, disimpan di aula tempat mereka senam, anak anak membuka baju, sepatu dan lain lain tanpa bantuan orang lain. Bayangkan anak usia empat tahun harus sudah bisa berpakaian sendiri. Kadang aku begitu bangga pada mereka, anak sekecil itu harus sudah membiasakan menyiapkan segala keperluannya seorang diri, membayangkan mereka makan siang sendiri dengan bekal yang dibawa dari rumah, kadang aku berkali kali mengingatkan untuk memakan buah buahan juga yang aku sertakan disetiap bekal siang mereka. Di usia empat tahun, aku sudah tidak direpotkan untuk urusan buang air kecil atau besar, mereka sudah bisa melakukannya sendiri.

Nanti saat mereka berada di group 3 (atau kelas satu SD di Indonesia) tak hanya gym yang mereka dapat tapi juga belajar berenang, dan sama halnya senam, berenangpun dilakukan saat jam sekolah, dan tanpa orang tua yang menyertai, mereka ramai ramai berjalan ke kolam renang yang tak jauh dari sekolah (beberapa sekolah ada yang mempunyai kolam renang di lingkungan sekolah). Pada umumnya anak anak disini sudah mengenal kolam renang sejak bayi dan mulai 4 tahun mereka sudah boleh mengikuti les renang), sama wajibnya dengan bersekolah anak anak disini juga diwajibkan belajar renang. Diploma A, B, C harus mereka raih.

Untuk urusan biaya sekolah, bersekolah di Belanda tentunya jauh lebih murah bila dibandingkan dengan di Indonesia. Anak anak di Belanda dikenakan leerplicht alias wajib belajar mulai usia 5 hingga 18 tahun. Untuk usia usia segitu mereka dikenakan peraturan tertentu, harus bersekolah, menaati waktu sekolah. Dan yang membiayai sekolah tentu saja pemerintah. Orang tua hanya dikenakan biaya study tour, biaya ophang (jaga anaka anak saat jam istirahat) untuk itu semua kami dikenakan 60 euro pertahun untuk setiap anak, biaya yang hanya 60 euro pertahun pun bisa dicicil dalam 4 kali pembayaran. Biaya itu bervariasi dengan sekolah lain, karena aku mendapatkan anak temanku hanya dikenakan biaya 17 euro saja pertahun. Kami tak dipusingkan dengan biaya buku, diktat atau uang seragam dan biaya biaya lainnya. Semua biaya dijelaskan dengan gamblang hingga cent pun mereka berhitung.

Karena biaya sekolah hanya dibantu hingga usia 18 tahun saja, sejak dini aku dan Luc sudah berunding akan bagaimana setelah anak anak berusia 18 tahun? Akankah mereka tetap bersekolah atau bekerja? Tentu saja setiap orang tua berharap mereka dapat bersekolah setinggi mungkin, tetapi untuk itu mereka harus memiliki dua hal uang dan nilai cito yang baik (selain kemauan dan usaha tentunya).  Biaya sekolah disini sangat mahal, konon mencapai ribuan euro pertahunnya, mereka yang bersekolah setelah usia 18 tahun, umumnya mendapat pinjaman dari pemerintah yang nantinya harus dikembalikan dengan cara dicicil jika mereka telah bekarja, cara pengembalian uang pinjaman diatur secara jelas, pengembalian uang dilakukan dalam jangka waktu 15 tahun disesuaikan dengan basis pendapatan yang mereka peroleh. http://nl.wikipedia.org/wiki/Studiefinanciering

Membaca dan menelaah mengenai pinjaman study tersebut, sejak dini aku dan Luc sepakat untuk menabung sedikit uang atas nama Cinta dan Cahaya yang nantinya bisa digunakan saat mereka ingin melanjutkan sekolah kelak. Tapi tak hanya urusan biaya saja yang harus diperhatikan, dari itu semua yang paling penting adalah hasil akhir dari nilai ujian mereka saat keluar dari Sekolah Dasar. Mereka yang akan menamatkan Sekolah Dasar akan menempuh ujian cito http://nl.wikipedia.org/wiki/Cito_Eindtoets_Basisonderwijs  yang hasilnya akan menentukan kemana mereka akan bersekolah kelak, ada tiga tingkatan yang akan menanti mereka setelah sekolah dasar selesai, yaitu:

  •  vmbo

dikenal dengan sebutan pendidikan kejuruan tingkat menengah persiapan, berlangsung empat tahun, dari usia 12-16 tahun,  menggabungkan pelatihan kejuruan dengan pendidikan teoritis dalam bahasa, matematika, sejarah, seni dan ilmu pengetahuan.  Vmbo memiliki empat tingkatan yang berbeda, dimana masing-masing mempunyai campuran yang berbeda dari pelatihan kejuruan yang praktis dan pendidikan teoritis yang dikombinasikan. http://en.wikipedia.org/wiki/Voorbereidend_middelbaar_beroepsonderwijs

  • havo

Disebut pendidikan menengah umum tinggi, berlangsung lima tahun lamanya, diikuti mereka yang berusia 12-17 tahun. Selesai dari Havo mereka bisa melanjutkan  ke tingkat perguruan tinggi ( politeknik ) atau pendidikan tinggi. http://en.wikipedia.org/wiki/Hoger_algemeen_voortgezet_onderwijs

  • vwo

Disebut dengan Pendidikan pra-universitas ( VWO ) disebut demikian karena setelah selesai bersekolah disitu mereka akan melanjutkan ke universitas atau bisa juga ke sekolah tinggi, mereka yang mampu menembus vwo adalah calon penghuni universitas di belanda. Vwo ditempuh dalam jangka waktu 6 tahun. Tak heran banyak dari anak anak Belanda (dan juga orangtuanya) berharap bisa masuk vwo setelah lepas sekolah dasar. Namun berdasarkan data tak banyak yang dapat duduk di vwo. 60% lulusan SD  masuk ke vmbo sedangkan sisanya masuk ke havo dan vwo. Dapat dibayangkan hanya mereka yang memperoleh nilai cito tinggilah yang dapat menduduki kursi vwo dan sudah dapat dipastikan suatu saat nanti mereka akan duduk di bangku universitas. http://en.wikipedia.org/wiki/Voorbereidend_wetenschappelijk_onderwijs

Namun demikian tak ada istilah vmbo lebih rendah atau vwo lebih tinggi, semuanya dapat dipahami dan dihargai. Untuk mencapai semua itu diperlukan kerja keras, kemauan dan kesabaran.

Kembali lagi ke sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini yang dirasakan banyak kalangan terlalu berat beban sekolah untuk anak anak di Indonesia, mata pelajaran yang terlalu banyak dan beragam, tuntutan harus bisa baca dan berhitung sebelum masuk sekolah dasar hingga beban biaya yang tak sedikit menjadikan sistem pendidikan Indonesia menjadi sedemikian komplek.

Sudah tiba saatnya untuk segera memikirkan dan mencari jalan keluar agar bisa mencari solusi untuk semua ini, sehingga anak anak bisa kembali ke fitrahnya…. bermain.

Dalam hal ini aku sangat setuju sekali dengan olah raga yang diadakan hampir setiap hari, sesuai dengan semboyan dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Dan bermain di luar kelas tak hanya dilakukan hanya pada jam istirahat saja, tapi dilakukan juga pada jam jam belajar, anak anak dibiarkan bermain bersama gurunya di luar kelas, bermain pasir, bermain air hingga kejar kejaran, semua dilakukan dengan kecerian khas anak anak. Tak heran jika anak anak di Belanda dianugrahi sebagai anak anak paling bahagia di dunia (berdasarkan laporan UNICEF). http://www.dutchdailynews.com/dutch-kids-ranked-happiest-in-the-world/

Teringat akan cerita temanku, dia selama dua tahun lamanya berada di Belanda untuk mendampingi suaminya yang sedang menempuh pendidikan di Belanda, kedua anaknya dimasukan di sekolah dasar di belanda, saat mereka kembali ke tanah air dan harus kembali bersekolah di Indonesia, satu bulan pertama anak perempuannya sering menangis setelah pulang sekolah, mengaku ingin kembali bersekolah di Belanda, keluhannya hanya karena terlalu banyak mata pelajaran yang harus dihapalkan, banyak PR dan beratnya beban buku yang harus dibawa ke sekolah. Sekolah di Belanda hampir bisa dikatakan tak membawa buku sama sekali, ceritanya.

Cinta dan Cahaya baru melangkahkan kakinya di sekolah, bersyukur aku tak harus khawatir pada mereka karena belum bisa baca dan berhitung saat masuk sekolah dasar, bersyukur tak harus memikirkan bagaimana mendapatkan biaya untuk sekolah mereka saat ini. Dan kami semua begitu bersyukur karena Cinta Cahaya bisa bersekolah dengan bahagia tanpa harus memikul beban yang berat di punggungnya seperti kebanyakan anak di Indonesia yang harus membawa buku berjubel jubel, yang bisa bersekolah dengan bebasnya, tidak seperti Malalai Yousafzai  yang harus rela ditembak demi keinginannya untuk tetap bersekolah. Semua itu harus disyukuri.

Anakku, bersekolahlah dengan riang gembira, kejar mimpi kalian setinggi mungkin, belajarlah dengan sungguh sungguh, semuanya perlu proses dan ketekunan.

Image

Advertisements

2 thoughts on “Mari Sekolah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s