Hujan

Orang-orang yg kalah selalu melihat hujan menjadi penghalang, menimbulkan ketakutan, dan hujan berarti kegelapan. Tapi bagi mereka yg mempunyai mental pemenang, meyakini adanya pelangi di balik hujan.

Itu status seorang teman yang aku baca hari ini. Jadi let’s talk about rain!

Sewaktu aku bekerja dulu bosku punya seorang sopir pribadi yang kehandalannya bikin orang geleng geleng kepala.

Wiiiiihhhhhhhh ngebutnya mantap, di puncak paas walau hujan dan berkabut tetap tenang dan teteap ngebut tapi tetap terkendali. Cerita ayahku yang pernah diantar Mr. Jo dari Bogor menuju Bandung.

He is a crazy driver. Hard rain but still high speed! Just happen in Indonesia. Cerita Luc yang pernah di jemput dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandung.

Suatu hari aku kena lembur, aku pulang malam, Mr. Jo datang menjemput untuk mengantarkanku ke rumah. Di tengah jalan segerombolan orang asyik berjongkok di jalan, asyik menawar dan aktivitas jual beli lainnya. Ya hari itu ada pasar malam. Mr. Jo, dengan cueknya menerobos gerombolan orang orang itu, walau dengan kecepatan yang tidak tinggi tapi tetap membuat orang orang yang nyaris diseruduknya mengumpat umpat saking kagetnya termasuk diriku yang ada di sampingnya.

Mr. Jo, plzzzzzz…pelan pelan atuh!

Atuda sok keheul, naha ari hujan lalumpatan ka sisi ngariuhan, ari ka mobil teu sieun!

Hahaha aku ngakak sejadi jadinya. Tapi beliau benar juga, aku memperhatikan banyak orang yang dengan cueknya nyebrang jalan disana sini, berjalan tidak di trotoar, dan aku sebagai supir juga kadang jengkel setengah mati.

Orang Indonesia kebanyakan tidak suka bawa payung atau jas hujan, kebanyakan yang bawa payung hanya orang tua dan perempuan saja. Sehingga jika hujan turun, seketika aktivitas seperti terhenti, yang mau ke luar rumah tunggu hujan dulu barang sejenak, yang ada janji nelepon dulu bakal terlambat datang, semua seperti ada jeda sejenak.

Tapi tidak dengan di Jepang, tua muda, laki perempuan, selalu tak pernah lupa payung dan jas hujan. Aku pernah terbelalak saking kagetnya saat berada di apartemen temanku di Tokyo, satu ember penuh hanya berisi payung, dan jawabnya banyak dari payung payung tersebut bukan kepunyaan dirinya tapi kepunyaan dari beberapa temannya yang datang berkunjung ke rumahnya dan lupa membawa kembali payung yg dibawanya dari rumah.

Di sini, aku memang jarang menemukan anak muda memakai payung terutama laki laki, tapi mereka tak pernah berhenti karena hujan, hujan kecil dan besar tetap mereka labrak, yang berjalan kaki tetap berjalan, yang naik sepeda tetap naik sepeda, orang jompo tetep berjalan bersama rollatornya semuanya tetap berjalan tak ada jeda.

Suatu hari saat anak anak masih berusia beberapa bulan saja, mungkin enam bulan, aku berjalan jalan dengan Luc sementara anak anak asyik tertidur di buggy yang kami dorong, tiba tiba hujan datang, dengan sibuknya aku segera membuka payung yang ada di buggy tersebut dan segera mengajak Luc untuk kembali ke rumah, sangat khawatir karena kaki mereka yang mungil tetap terkena air hujan walaupun sudah memakai payung.

Dan apa jawaban Luc?

Apa mereka terbuat dari gula? Mereka tak akan meleleh karena hujan. Let’s enjoyed the rain with the babies!

Ps. Semoga aku termasuk orang yang menyakini adanya pelangi di balik hujan. And I do! 🙂

Rotterdam, 3-9-2012

images

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s