Dasar Anak Monyet!

Kami (aku dan Luc) membaca pengalaman ini di forum expatriat “living in Indonesia”, sebuah forum yang diperuntukan bagi warga asing yang tinggal di Indonesia.

 

Ceritanya begini, Mister A (seseorang yang menulis pengalamannya), dia berada di pesawat yang membawanya dari jakarta ke Australi untuk sebuah pidato. Karena dalam beberapa hari ini dia kurang tidur karena kesibukannya dan kini tiba tiba dia harus terbang ke Australi untuk sebuah ”speech”. Dengan angan angan yang tinggi, akhirnya dia berharap dapat tidur nyenyak di pesawat menggantikan hari hari kemaren, dan juga untuk membuat kondisinya bugar karena dia harus pidato pada hari dia sampai di Australia.

 

Tapi harapan tinggal harapan, dia duduk berdampingan dengan seorang anak usia sekitar 5 tahun yang sepanjang perjalanan bermain games tapi diiringi teriakan khas anak anak yang kegirangan setiap kali dia menang. Dengan frustasi yang amat sangat karena dia sama sekali tdk bisa tidur selama perjalanan, dia melontarkan kata kata…. Dasar anak monyet! Anak tersebut diam saja tidak mengerti, dia tersenyum lega dan gembira karena telah mengungkapkan kekesalannya dalam bahasa Indonesia, anak tersebut berkulit putih, sama dengan dirinya alias bule.

 

Tak lama anak tersebut meminta ayahnya untuk menemaninya ke toilet, ayah dan anak bicara dalam bahasa Inggris. Kemudia sang ayah melewati Mr A yg duduk di paling pinggir dekat jalan lewat, sambil melewatinya sang ayah berkata……..Permisi, anak monyet mau lewat!

 

Hahaha, cerita yang sama pernah aku dengar dari cerita ibuku sewaktu aku kecil, dan ibuku mendapat cerita tersebut dari kakekku dalam versi lain, karena kakekku berkata dasar monyet bodas, dan kemudian bule yang disangka tidak mengerti bahasa Sunda tersebut berkata…..punteun monyet bodas bade ngalangkung!

 

Cerita konyol lainnya yang aku dapatkan dari kakekku adalah, cerita seorang pak haji dan penggembala kerbau. Tau kan pada jaman ibuku kecil, seorang haji adalah orang yang sangat dipuja karena arif dan berwibawa, tapi kakakke menceritakan sisi humor pak haji yang fantastis, saat pak haji berpapasan dengan seorang penggaembala kerbau yang sedang menuntun kerbaunya dia berkata,

“Jang, naha munding teh dituntun? Lolong?”

Si Ujang tak menjawabnya tapi melontarkan dengan pertanyaan lain,

“Pak Haji, naha sirah teh di beungkeur? Beulah?”

 

Hahaha, Haji jaman itu identik dengan sorban yang melilit kepalanya. Dan lucunya waktu aku kecil, setiap aku berkunjung ke kampung kakekku di singaparna, aku selalu meminta ibuku untuk membawaku menemui Pak Haji dan Si Ujang, tentu saja ibuku berkali kali menjelaskan bahwa itu hanya cerita rekaan dari kakekku saja. Bagiku orang yang bisa mengungkapkan selera humornya dengan ekspresi datar dan lugas, adalah orang orang yang briliant. Yah, contohnya ayah yang berada di pesawat tadi, Pak Haji dan Si Ujang.

 

 

Rotterdam, 8-4-2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s