News

Saat seputar Indonesia pertama kali muncul di RCTI, kami termasuk keluarga yang mengikuti berita tersebut selain dunia dalam berita, bahkan sepupuku sampai rebutan channel dengan pembantunya karena konon pembantunya suka memindahkan channel saat dia sedang menonton seputar Indonesia ke channel lain yang sedang menyajikan senetron.

Kini setelah bermunculan banyak station TV swasta di Indonesia, menonton banyak berita malahan jadi bikin stress, entah karena kelebihan dosis atau karena begitu banyak berita ngeri yang disajikan.

Penyajian berita di TV Indonesia dengan penyajian berita di TV belanda sangat berbeda sekali.

Di Belanda, berita disajikan secara singkat dan padat dan bisa diulang setiap satu jam sekali tapi hanya dengan pengambilan satu kali. Di Indonesia banyak berita yang disajikan dengan berbagai kemasan tapi isinya tetap sama, hanya narasi, pembawa acara dan nama acara yang dibuat berbeda. Lucunya banyak berita yang dibuat seheboh mungkin sehingga menjadi seperti drama bersambung, belum lagi jika sudah disajikan dengan menampilkan orang orang yang saling komen sana komen sini, sehingga jadi acara talk show yang penuh dramatisir, walau yang dibahas umpamanya hanya Nazarudin sakit di tahanan. Maka jangan heran jika dari pengacara sangat terkenal hingga orang yang belum pernah kita kenal sebelumnya bisa jadi jadi tamu di acara bincang bincang tersebut.

Dan minggu yang lalu aku melihat berita yang biasanya disiarkan di Indonesia muncul di Jeugdjournaal-nya Nederland drie. Agak terkaget kaget juga, bukan karena berita yang disajikan bikin miris orang yang melihatnya tapi kok bisa berita seperti itu muncul di TV anak2 Belanda. Gambar yang disajikan di depan mataku adalah kereta api di Jakarta yang atapnya penuh dengan orang orang yang duduk diatasnya kemudian diperlihatkan di suatu titik perjalanan bergelantungan bandul pemecah bangunan yang sengaja dipasang untuk mengantisipasi orang orang yang duduk di atas kereta.

Dan kemudian keesokan harinya, Luc terheboh heboh bercerita dengan antusias bahwa dia semalam baru melihat berita mengenai ‘sang kereta api tersebut’. Dengan hati hati aku harus menjelaskan, bahwa hal tersebut dimaksudkan untuk membuat orang tidak berani naik ke atap kereta api, sehingga hal yang lebih membahayakan seperti jatuh dari kereta api akan terhindarkan. Aku juga menjelaskan bahwa sebelumnya sudah dilakukan dengan berbagai cara dengan memasang besi berjeruji tajam di atap kereta api, melapisi atap kereta api dengan aspal yang tebal hingga menembakkan cairan berwarna pada orang yang naik di atap kereta api, tapi tetap saja cara cara tersebut tidak jitu. Orang masih saja berani bertarung nyawa untuk tetap duduk di atas kereta api.

Aku tau dengan persis, bahwa penjelasanku akan membuat percakapan kami semakin panjang, seperti pertanyaan Luc berikutnya, apakan mereka yang duduk di atap kereta api tak punya tiket? Apa masalahnya? Tak punya uang untuk membeli tiket? Tak ada waktu untuk membeli tiket? Karena terburu buru berangkat kerja? Apakah kapasitas kereta api tak memadai? Berapa banyak kereta api yang beroperasi? Berapa banyak orang yang menggunakan jasa kereta api?

Kemudian pertanyaan berikutnya…..

Sudahkan kereta api yang beroperasi sesuai dengan kebutuhan orang orang yang ada? Sudahkah harga tiket disesuaikan dengan kemampuan orang orang yang menggunakannya?

Kemudian pertanyaan yang bertubi tubi diakhiri dengan pernyataan yang dilontarkan secara serius,

I hope they put a lot of matras along the railroad, so people who sitting on the train can jump as it pass trough the death trap. Dan langsung aku jawab, ya PJKA menempatkan ribuan matras disepanjang jalan kereta api, hingga mereka bisa melompat dengan selamat begitu milihat bandul pemecah bangunan. Hahaha tentu saja aku menjawab pertanyaan Luc karena sudah frustasi tak tau harus menjawab apa lagi dan anehnya Luc menarik nafas lega sambil bergumam…… ah gelukig! (untunglah) Hahay dia mengira memang disediakan matras disepanjang rel kereta api.

Sungguh aku hanya bisa menarik nafas sesak, melihat semua berita miris, sungguh tak habis pikir begitu banyak orang Indonesia yang terlahir menjadi akrobatik, dari mereka yang naik di atas kereta api hingga anak anak yang meniti jembatan runtuh untuk berangkat dan pulang dari sekolah.

Malu pada diri sendiri yang tak bisa berbuat apa apa melihat semua itu, malu karena masih banyak keluh yang aku lontarkan hanya karena sepanjang hari menjaga anak anak di rumah, mendorong buggy melawan ganasnya angin saat mengantarkan mereka ke sekolah. Semua yang aku kerjakan tiap hari tak bisa dibandingkan dengan mereka yang menaiki atap kereta api atau yang meniti jembatan runtuh. Aku tak harus menantang bahaya seperti mereka!

Rotterdam, 23-1-2012

ka

bandul ka

bandul ka

Bandul besar yang akan di pasang diatas rel kereta api

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s