Children’s book day

Bagi teman teman yang mengalami jaman kanak kanak di era tahun 80 an (ufffff aku dah tua ternyata) pasti tau dengan majalah anak anak bobo. Dulu waktu aku belom bisa baca, hari kamis adalah hari yang kami tunggu tunggu, hari kamis tukang koran selain mengantarkan koran juga nganterin majalah Bobo. Karena aku satu satunya yg belum sekolah, maka akulah yang pertama bisa melihat lihat gambar-gambar di majalah (waktu itu aku belom bisa baca).

Dan malamya, saat aku minta dibacakan buku sebelum tidur, cerita Oki dan Nirmala adalah cerita yang minta duluan dibacakan, disusul cerita Bobo, Si Sirik dan Juwita. Si Sirik adalah tokoh yang disukai ayahku, ingat dalam memoriku saat dia mengatakan Alakazam, benar benar menakutkan dan saat Si Sirik berubah jadi tutung karena ulahnya sendiri (selalu begitu akhirnya) ayah akan tertawa terkekeh kekeh. Ayahku juga suka cerita Husin dan Asta, bagian yang betul betul tidak menarik bagiku. Beliau juga suka cerita Deni manusia ikan (juga tidak aku sukai karena ga tamat tamat, walau akhirnya tamat juga).

Majalah Bobo banyak berubah di era tahun 90 an (kami kembali berlangganan Bobo karena si bungsu lahir terlambat sangat jauh dari kakak kakaknya). Tidak banyak tokoh dalam cerita Bobo, yang jadi tokoh utamanya hanya itu itu lagi Bobo dan Doni sahabatnya. Ga ada tokoh Lobi lobi dan Tutut (sepupu Bobo), bibi Titi Teliti, bibi Tutup Pintu, dan tokoh Coreng dan Upik hanya selingan saja. Begitu juga dengan cerita Oki dan Nirmala, ga ada lagi tokoh Pak Dobleh yang suka bikin kue, tokoh Dino dinosaurus sahabat Oki, ga ada Tik tik yang lucu yang sangat suka main hujan, dan tokoh Ratu kahiayangan juga ga ada. Kalau aku sangat suka Nirmala, lain lagi dengan kakak tertuaku, dia suka sekali bagian “Tahukah Kamu?”, urusan sain dan sain yang tidak menarik perhatianku.

Jika jaman kecil dulu ada biodata yang harus diisi di kolam hobby, maka aku selalu mengisinya dengan hobby membaca. Ternyata kegemaranku membaca tidak ada apa apanya jika dibandingkan generasi ponakanku sekarang, jika aku dulu hanya gemar membaca dongeng dongeng pengantar tidur dari HC Andersen’s, tidak dengan ponakanku, dari usia dini mereka sudah mulai bertanya:

– Teu, kenapa kalo burung berdiri di kabel listrik ga kesetrum?

– Teu, tau ga kenapa lampu lampu di jalan selalu berwarna kuning? Ga putih seperti lampu neon di rumah kita?

– Ateu, tau ga kenapa kucing setelah eé selalu ditutup ama pasir?

– Ateu tau ga ini, tau ga itu?

Waw selalu pertanyaan pertanyaan yang aku sendiri saat itu ga tau jawabannya. Aku baru tau jawabannya setelah dia sendiri yang menunjukan buku yang dibacanya ke arahku, disertai penjelasan yang membuatku terkagum kagum, padahal dia baru berusia 7 tahun saja. Dia sudah membaca buku ensklopedia anak anak yang disertai gambar gambar menarik. Tentang Apa dan Mengapa. Terbayang dalam memoriku ketika aku hidup bersamanya selama setengah tahun saat dia berusia 3 tahun, dia selalu minta dibacakan buku enklopedia anak anak, seri transportasi. Maka tak heran dia kini (usia 10 tahun), bagai buku berjalan jika bicara mengenai kereta api, jenis apapun dia tau, sampai kecepatan kereta api tercepat sekalipun, jadi jangan heran kalo dia tiba tiba bicara ke padaku di chating hanya untuk bilang…… ateu, tahu ga sekarang bukan shinkansen lagi kereta tercepat, sekarang kereta titik titik titik (aku ga tau namanya), kecepatannya sekian, ada di negara A, dan penjelasan detail lainnya.

Jika aku mengenal buku dari ayah dan ibuku, hingga kini aku belum begitu mengenalkan buku pada Cinta Cahaya, hanya buku usia awal saja yang mereka punya, itupun pemberian colega Luc saat mereka ulang tahun, kini buku tersebut rusaknya bukan main. Tapi sejak mereka belum lahir aku sudah mempersiapkan buku buku cerita buat mereka, Sprokjes. Aku ingin mereka menyukai dongeng antah berantah sepertiku dulu. Jack dan pohon kacang, Putri Aurora, Itik bertelur emas, Putri Tidur, Putri Salju, Gadis berkerudang merah, Tiga babi kecil, (ayo apa lagi?), tapi aku juga ingin mereka menyukai cerita wayang dan legenda Indonesia seperti aku dulu. Dan saat aku mengutarakan pada Luc, dia hanya bilang…..mereka boleh menyukai buku apapun yang mereka suka (tetap dlm standar anak anak), mungkin saja dia lebih menyukai animasi jepang (seperti dia).

Di hari buku anak anak dunia yang tepat diperingati hari ini, diambil dari tanggal lahir HC andersen’s,

http://www.ibby.org/index.php?id=269

aku ingin anak anak Indonseia gemar membaca, aku tahu kegemaran anak anak membaca berangkat dari fasilitas yang mereka miliki sedari kecil, tapi itu bukan alasan untuk berkelit untuk tidak suka membaca, aku contohnya…… ga semua buku yang aku mau selalu aku dapatkan, aku harus berjuang dulu begitu lamanya jika ingin buku yang aku inginkan tidak dibelikan oleh orang tuaku, aku gemar datang ke perpustakaan dan menjalin pertemanan dengan teman teman yang gemar membaca juga, membuka usaha perpustakaan kecil kecilan yang dinamai “Cahaya LEN” singkatan dari nama nama kami, menarik sedikit uang dari teman teman lain yang meminjam buku kami dan kemudian hasil dari uang tersebut kami belikan buku baru, kami juga meminjamkan buku gratis pada mereka yang tak punya uang sama sekali. Dan itu terjadi saat aku masih duduk di bangku SD.

Aku juga melihat contoh dari orang tuaku yang selalu punya waktu untuk membaca, masih terbayang ibuku terbahak bahak setelah membaca Lupus (by Hilman Hariwijaya), Kiki dan komplotannya (by Arwendo Amiwiloto) atau Petualangan Si Roy (by Gola gong), juga aku sempat tersenyum kecut saat ayahku pulang dari Prancis, berbulan bulan lamanya (aku masih berusia 13 tahun), saat kami memburu kopernya hanya buku buka yang dia bawa termasuk brosur brosur remeh temeh dari station kereta api. Terbayang juga wajah kakekku jika beliau berlibur ke rumah kami, yang terbayang dibenakku adalah beliau identik dengan membaca koran dengan kaca mata tebalnya, padahal beliau sudah berusia sangat sepuh lebih dari 80 tahun! Tapi tetap semangat membaca.

Walaupun sekarang buku sudah mulai tergantikan oleh internet, dan jangan salah banyak hal menarik dari internet yang sangat bermanfaat untuk dibaca, tapi tetap kegemaran membaca berawal dari buku!

Selamat hari buku anak anak dunia.

Tetap semangat membaca (aku dah mulai kendor membaca pfffffffffff), tetap semangat memberi contoh membaca untuk generasi mendatang.

Rotterdam, 2 April 2011

PS.
Hari ini, dalam rangka memperingati hari anak nasional 23 juli, mari kita kenalkan gemar mebaca pada anak anak kita.
Dan kini Cinta Cahaya pun sudah gemar membolak balik buku, bagi mereka buku tak kalah menarik dengan mainan terutama bagi Cinta 🙂
Terus lah membaca anak anakku, seperti perintah-Nya…. Iqro!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s