One Day Journey

Kereta itu lewat persis di depan mataku, saat aku tiba di peron 4.

Kereta api yang akan membawaku ke Maastrich baru saja meninggalkanku.

Beringsut pelan menghampiri bangku merah yang ada di peron tersebut, aku duduk dan mulai mengatur nafasku yang sedikit diatas normal.

Finally hari ini tanggal 24 dec 2011, aku memutuskan tetap pergi ke Maastrich.

Setelah beberapa jam sebelumnya aku masih ragu antara berangkat atau tetap di rumah, dan begitu keputusan untuk tetap pergi aku ambil, aku masih saja disibukkan oleh tetek bengek yang tak perlu, berkali kali mengecek keperluan untuk anak anakku selama aku pergi (yang hanya beberapa jam saja!)

Tiba di station dengan diantar suami dan kedua anakku, berkali kali suamiku menyemangatiku untuk ‘have fun’ tak usah khawatir akan kedua anakku. Bersyukur, karena dia begitu memahamiku. Mengerti akan kerinduanku berpetualang.

Duduk tercenung di bangku merah di peron 4, tak lama kereta api antar negara (Thalys) berhenti di peron 4. Orang yang menunggu di peron segera masuk, tak sampai lima menit petugas segera meniup peluit tanda kereta akan berangkat, seorang wanita tinggi semampai dengan nafas tersengal tiba mengejar kereta yang akan bergerak maju.

Jam tak dapat kembali diputar balik, juga untuk tiga detik keterlambatan kaki yang membawa langkahnya menuju kereta. Kereta tujuan Brussel dan Paris itu sudah bergerak. Sosok semampai itu mulai terguncang, pundaknya naik turun dan air matanya mulai mengalir. Dan dia tetap berdiri terpatung di pinggir peron.

Aku ikut terpaku menyaksikan semua adegan tersebut, ikut merasakan perih yang dia derita. Sangat mengerti bagaimana rasanya ditinggal oleh kereta, mengerti bagaimana rasanya menyeret koper menuju peron yang harus melewati tangga tanpa lift di station Rotterdam yang sibuk, mengerti bagaimana rasanya menanggung beban di tinggal kereta seorang diri.

Saat wanita muda tersebut mulai mengusap air matanya dan segera beringsut menuju bangku merah dimana aku duduk, aku segera mengalihkan pandangan ke arah lain, berusaha keras untuk tak melirik wajah yang baru bersimbah air mata. Tapi tidak dengan seorang ibu yang duduk di sebelahku, dia segera menawarkan rasa simpatinya yang langsung dijawab dengan bahasa Inggris oleh wanita muda tersebut tanda dia tak mengerti apa yang si ibu katakan padanya. Ya, tentu saja sejak awal aku sudah mengira dia bukan seseorang yang berbahasa Belanda, dari raut mukanya aku sudah menebak dia berasal dari suatu negara di Eropa Timur.

Dan kami bertiga segera duduk berdampingan.

Wanita muda itu segera mengeluarkan telepon genggamnya, berusaha melakukan kontak telepon tapi sepertinya tak ada jawaban di ujung sana. Sungguh aku tak mau meliriknya, tak mau ikut berduka bersamanya. Doaku terkabul, dia segera beranjak pergi sambil menyeret kopernya yang berat. Dan sang ibu yang ramah segera sedikit menghiburku, mengatakan bahwa masih akan ada kereta ke Paris atau ke Brussel untuk hari ini, setidaknya wanita muda itu harus bersabar menunggu kereta berikutnya. Pernyataan itu jelas dijawab dengan rasa syukur dalam hatiku, membayangkan jika wanita itu akan pulang ke negaranya untuk merayakan natal esok hari bersama keluarganya, dia masih bisa mengejar waktu.

Kereta yang aku tunggu tiba satu jam berikutnya, setelah sesuatu yang tak seperti biasanya terjadi. Seharusnya kereta yang akan membawaku ke Maastrich akan tiba setiap setengah jam sekali, tapi hari ini begitu kereta api muncul, kereta itu hanya menurunkan penumpang dan melarang kami yang tengah menunggu untuk tidak naik kereta, di pengeras suara yang terdengar adalah bahwa kami harus menunggu kereta berikutnya alias harus menunggu setengah jam lagi, alhasil aku terus terusan harus melirik papan elektronik jadwal keberangkatan kereta menuju Maastrich dengan seksama, jangan sampai aku salah naik kereta, karena hampir lima menit sekali kereta datang dan pergi yang membawa ke berbagai jurusan.

Bagi diriku yang biasa menunggu kereta di Station Bandung yang akan membawaku ke Yogya atau Surabaya, menunggu setengah jam bahkan tiga jam sekalipun adalah hal yang enteng, tapi tidak dengan manusia produk sini yang biasa tepat waktu, penundaan selama 30 menit dirasakan hal yang merugikan hak azasi manusia, maka kudapatkan wajah wajah tak senang disekitarku saat menunggu kereta 30 menit berikutnya, dan begitu kereta yang ditungggu muncul, mereka segera berlompatan masuk.

One day journey kali ini, bukan penceritaan bagaimana rupa Maastrich setelah lebih dari 4 tahun lalu aku tinggalkan, tapi bagaimana perasaan hatiku saat aku kembali berpetualang. Memori yang kembali menggila saat aku masih tinggal di Indonesia, yang begitu menghitung hari jika mendapati kalender berwarna merah di hari jumat atau senin, yang berarti aku bisa melakukan journey 3 hari lamanya tanpa merusak cuti tahunanku yang sangat aku jaga rapi untuk kupergunakan journey yang lebih panjang di tiap tahunnya. Jika aku mendapati angka merah itu artinya aku sudah harus mulai bernegosiasi bersama Ratna, teman bertualangku.

Jika banyak mereka yang berlibur bersama teman akan mencari daerah wisata dari kota atau negara yang mereka tuju, tidak dengan kami. Mendatangi daerah wisata cukuplah sudah saat kami sekolah dulu, study tour tiap tahun dengan rombongan sekolah. Yang kami datangi tempat biasa saja, tempat yang secara tak sengaja kami temukan tapi selalu menjadi menarik. Siapa sangka saat kami tersesat setelahh berjalan jauh dibawah terik matahari, tahu tahu kami terdampar di pasar burung di kota Yogya padahal sebelumnya kami bermaksud hanya mencari toko yang menjual kancing dari tempurung kelapa (juga sesuatu yang aneh) tapi dari pasar burung kami bisa berkenalan dengan penjual burung dan bisa begitu meresapi kehidupan bapak si penjual burung beserta keluarganya. Atau siapa sangka setelah dari keraton lama kami bisa terlibat dengan kehidupan masyarakat di sekitar situ?

Atau kami bisa berlama lama duduk di bangku Mall besar di Jakarta atau Bandung, dan hanya sibuk menilai wajah orang? Menghitung berapa banyak wajah bahagia yang kami temukan di mall? Kemudian bersyukur ternyata dalam keadaan bagaimanapun kami selalu tertawa riang. Kami menilai bahwa kami bahagia, hahaha.

Kembali ke one day journey ku hari itu, hal seperti itulah yang kemudian aku dapati. Menyimak mereka yang duduk di peron di station Rotterdam, kemudian saat aku melangkahkan kaki keluar dari kereta yang artinya aku sudah berada di Maastrich adalah aku terpaku pada dua sosk wanita muda yang sedang sibuk berfoto ria. Dan ingatanku kembali ke memori purba jaman dulu kala saat aku masih sering berpetualang bersama Ratna. Wajah bahagia itulah yang aku rekam saat melihat mereka, persis seperti apa yang aku lakukan bersama Ratna, tertawa bersama. Dan tak lama kami sudah berjalan bersama menuju kerst markt di jantung kota Maastrich. Dan siapa mengira kami ternyata masih bersama saat aku kembali ke kota Rotterdam, kami mengambil kereta yang sama karena mereka kembali ke Delft. Ya mereka dua mahasiswa dari TU Delft.

Dari semua itu, aku berterima kasih pada Luc, yang mengijinkanku untuk kembali berpetualang. Yang tak henti hentinya selalu menyemangatiku untuk melakukan hal yang kuimpikan.

Walau journey kali ini hanya beberapa jam saja, sungguh aku menikmatinya.

So Yayang, what’s next?

Rotterdam, 28 Dec 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s