Lumpur Cinta

Dulu waktu aku kecil aku  suka sekali kue lumpur.

Biasanya aku beli kue lumpur di Trina, supermarket pertama yang aku kenal saat aku kecil dulu yang terletak di jalan buah batu di sisi ruas yang sama dengan tempat tinggalku dulu, setiap aku disuruh ibuku beli telur aku tak lupa minta izin pada ibuku, apakah aku boleh beli kue lumpur juga.

Beberapa bulan yang lalu, secara mengejutkan aku menerima kiriman paket dari Indonesia, tak seperti biasanya ibuku tak memberi kabar padaku bahwa dia mengirim paket untukku. Senang tentu saja menerima kiriman tak terduga…. tapi rasa haruku melebihi rasa senang itu. Ibuku mengirimkan cetakan kue lumpur dan cetakan martabak.

Ibuku hanya tertawa bahagia di ujung sana saat aku menelepon dirinya untuk mengucapkan terima kasih. Ingat kamu waktu kecil yang doyan kue lumpur katanya dengan riang.

Luc berkata dengan polosnya waktu kami bersama sama membuka paket tersebut, katanya… wah alat masak seperti ini mungkin ada juga di jual di blokker, repot sekali ibu mengirimnya kesini. Kataku pada Luc…. cetakan ini hanya ada di Indonesia!

Baru belakangan hari saat aku bercerita tentang cetakan kue lumpur, temanku berkata kalau yang bahannya dari teflon biasanya ada di blokker, kecuali yang bahannya dari tembaga baru biasanya tidak dijual disini.

But anyway, aku bangga sekali punya cetakan kue lumpur itu, bangga karena ibuku yang mengirimkannya dari Indonesia, karena dengan cintanya cetakan itu kini berada di tanganku, dengan jawaban riangnya di ujung sana yang mengatakan …. karena dulu kau suka sekali kue lumpur.

Janjiku, akan kubuat jutaan kue lumpur penuh cinta. Dan benar saja pertama kali aku membuat kue lumpur, aku mendapatkan pujian dari Luc. Disusul bertubi tubi pujian dari tamu yang datang ke rumah kami saat aku menyuguhkan kue lumpur atau saat aku membawa kue tersebut ke suatu acara. Dan di suatu malam (saat aku berada di luar rumah, sementara Cinta Cahaya di rumah bersama Luc) aku mendapat telepon yang menyejukan hatiku…. di ujung sana terdengar suara merdu dari seorang gadis kecil yang berkata…..Bunda, ik vind kue lumpur lekker….. Suara kecil Cahaya yang penuh cinta.

Image

PS. Terus terang kue lumpur yang aku buat biasa saja, tak se-fantastis kue lumpur di Trina sewaktu aku kecil dulu 🙂

 

Rotterdam, 30-3-2013

Image

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s