Makhluk Sosial Judulnya

Bener2 tertampar. Saat “aksi” mu didepan mataku, dan tidak diketahui oleh siapapun. Tapi semuanya pasti akan “dibalas” suatu saat nanti. Camkan itu ….(sensor)!!!!!

Jika yang menulis status seperti itu si A atau si B, aku masih bisa maklum, masih bisa tersenyum, dan masih bisa ikut berkomentar lucu atupun ikut menghibur.

Tapi tidak pada dia, aku terlalu kaget membacanya, hingga tak kuasa ikut menghibur ataupun menulis kata kata menguatkan ataupun sekedar kata kata untuk membalaskan kekecewaannya.

Membaca status singkat seperti itu, malah mengingatkan ingatanku di jaman aku masih kerja dulu. Selalu saja ada kekecewaan dan sakit hati.

Aku bekerja dengan sungguh sungguh, sekuat tenaga, sejujur mungkin, serajin mungkin, seramah dan seko-operatif mungkin pada semua orang yang terkait di tempat kerjaku. Dan hasilnya, baru tiga bulan aku bekerja disitu aku mendapat predikat karyawan terbaik untuk tahun tersebut, tak hanya atasanku langsung yang terlihat puas akan kinerjaku akan tetapi bos paling atas pun terlihat senang. Hingga aku mendengar dari kolega terdekatku bahwa si C membicarakan diriku dibelakangku. Katanya, tak aneh dia bisa dapet penghargaan, karena dia (diriku) bawaan bos besar…

Tanyaku siapa si C? Ooooooohhhhhhh dari depertemen lain toh, tak banyak berinteraksi dengan diriku. Tenang…. dia tak tahu siapa diriku, tak tau cara kerjaku. Wajar dia berkata seperti itu, toh dia tak mengenalku!

Di tempat kerja yang lain lagi, kolegaku sungguh membuat diriku semaput, tak ramah sejak pertama kali padaku, manyun terus, ngomel ngomel, kalau boleh aku bilang nenek sihir seratus kali lebih lucu dan ramah daripada dia!!!

Dengan cueknya aku bertahan dengan semua perlakuannya padaku, hingga atasanku berkata bahwa bos dari bosku menginginkan aku menggantikan ‘suatu tugas’ yang biasanya dikerjakan oleh kolegaku. Sederhana saja permintaannya karena pada saat dia tak masuk kerja dan aku yang harus mengerjakannya, aku membuat laporan yang lebih baik daripada dia.

Aha, pikirku. Itukah sebabnya selama ini dia tak suka padaku? Persaingan dalam dunia kerja? Untuk apa? Bukankah seharusnya kami bekerja bersama sama. Pikirku hanya pekerjangan ringan kok, hanya masalah administrasi. Mengapa sebegitu repot hingga tak pernah menyapaku dengan ramah, kenapa harus dengan muka bersungut sungut dan tanpa memandang wajahku?

Jujur saat itu aku sakit hati padanya, sedih luar biasa mengapa nasibku seperti ini, dibenci orang yang menurutku tak ada apa apanya.

Kini aku tak berada dalam putaran dunia kerja lagi. Mungkin suatu saat nanti jika diharuskan dan ada kesempatan untuk bekerja kembali, aku akan berada dalam lingkaran seperti itu lagi. Bahagia dan senang saat berkeja tetapi akan ada juga situasi situasi tak menyenangkan, itu biasa…  itu manusiawi…..

Juga kini tanpa bekerjapun, kita akan selalu bersinggungan dengan hal menyenangkan dan hal mengecewakan. Disini sekalipun, dimana konon orang orangnya tak se’çomel’ di Indonesia, tetap kita harus sedikit ber say hello. Kadang ada orang yang ingin aku hindari tapi ini orang tetap getol ber say hello padaku, disisi lain ada orang yang begitu aku suka dan aku berusaha untuk bersay hello tapi tak pernah mendapat respon yang menggembirakan hatiku.

Hingga pada akhirnya aku sadar dan belajar dari semua ini dari dunia kerjaku dulu dan juga dari dunia saat ini, bahwa kita manusia benar adanya sebagai mahkluk sosial, selalu membutuhkan orang lain. Menyenangkan atau mengecewakan setiap respon dari orang lain, kita harus menerimanya. Dan ternyata bersikap baik dan tulus (termasuk pada orang yang kita tak suka) jauh lebih melegakan daripada menyimpan pikiran negatif terhadap orang lain.

Dan yang paling berarti untukku adalah dukungan dari keluarga. Terdengar klise memang, tapi cobalah rasakan disaat kita kecewa dan tiba tiba saja dilimpahi cinta dari keluarga, semua kekecewaan yang tadi membendung tiba tiba sirna seketika.

Pelajaran untuk diriku, berikan cinta juga pada mereka yang mengecewakanmu…. mampukah????? Huhuhu, aku tak tau.

PS. Untuk adikku, lawan dan sikat saja orang seperti itu, hihihi

Rotterdam, 26-3-2013

Advertisements

3 thoughts on “Makhluk Sosial Judulnya

  1. Mau dimana2 orang yang begitu akan selalu ada, dan percaya atau tidak mereka akan selalu menyebalkan. Tanpa sadar mungkin kita juga pernah khilaf dan melakukan hal yang sama terhadap orang lain. Jadi… dari pengalaman hampir 8 tahun di dunia kerja bekerja, hehehehe, yang terbaik yang bisa kita lakukan hanya bersikap cuek selama orang itu tidak menaruh belati di leher kita atau mencoba menusuk kita dari belakang (yaiks) dan juga ” just consider it as a compliment when someone spend a lot of their time for hating us while we never even think about them (and it does sounds like we are a celebrity doesnt it?)” quoted from Mr. B.J. Habibie. Our own enemy is ourselves.
    By the way Indonesian people is the most happy and the most optimistic world citizen in this year 2013 so lets spread out the positive energy people.

  2. ateu yayang…jadi pencerahan, memang benar sebagai makhluk sosial begitu banyak persinggungan baik yang menyenangkan, menyebalkan dan menyakitkan….hehehehe.
    terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s