Annelies dood

Hampir satu tahun yang lalu, Luc berkata dengan muka masam memperlihatkan hatinya yang terluka… Annelies dood!!! Aku gak mau baca buku kedua Pram (baca buku kedua dari tetralogy pulau buru, Anak semua bangsa), masa Annelies mati? Gak lucu ga menarik, gak seru!

Hohoho, rupanya ada yang kecewa berat!

Teringat saat aku sodorkan buku berjudul Bumi manusia versi bahasa belanda kepada Luc, dia menerima dengan ogah ogahan…. hhmmmm aku ga biasa baca fiksi romantika, kau tau kan bacaanku kebanyakan science dan horor. Kau boleh sodorkan bermacam macam cerita horor Indonesia tapi please jangan yang seperti ini.

Setelah rayu sana rayu sini, membujuk agar mau membacanya, untuk sedikit tahulah tentang budaya Indonesia, tulisan yang baguslah, menunjukan berapa banyak penghargaan yang diterima Pram di mata dunia, dan lain lain, dan lain lain. Akhirnya usahaku berhasil!

Hampir setiap malam sebelum tidur Luc membaca buku tersebut. Sedikit demi sedikit meninggalkanku yang juga membaca buku yang sama dalam versi bahasa Indonesia. Membawa  buku tersebut saat kami liburan ke Praha, membacanaya hingga pukul tiga pagi, kemudian bangun pagi sekali untuk kembali membaca buku tersebut. Berkali kali menanyakan tentang kebenaran yang ada di buku tersebut dengan keadaan di Indonesia sebenarnya, tertarik luar biasa tentang apa yang dilakukan Belanda pada Indonesia di jaman kolonial dulu. Bertanya ini itu, berdiskusi  panjang lebar dengan diriku, hingga kemudian menyebutku Nyai (salah satu tokoh dalam buku tersebut) dengan nada mesra, yang langsung aku jawab dengan pelototan mataku, gondok sekaligus geli.

Beberapa hari setelah Luc mogok tak mau baca buku Pram lagi, sedikit demi sedikit dia mulai melupakan sakit hatinya (hahaha) pada Pram dan mulai terobati atas matinya Annelies, Luc mulai membaca buku selanjutnya.

Buku kedua, buku ketiga dan kini buku keempat tengah kami baca setahap demi setahap. Luc meninggalkan aku yang terlambat membaca buku keempat, kami sama sama tidak begitu seantusias membaca buku pertama karena di buku keempat ini Pram  menghilangkan tokoh Minke yang selama ini menjadi tokoh sentral dalam buku buku sebelumnya. Walaupun banyak revieuw dari mereka yang telah membaca keempat buku dari seri pulau buru bahwa buku keempatlah yang paling menarik.

Hingga pagi tadi, Luc berteriak gembira ke arahku…. Yayang, Minke is back! Serunya gembira.

Aha, syukurlah…….

Membaca buku buku Pram setidaknya menambah wawasanku mengenai keadaan Indonesia di jaman kolonial dulu, ikut merasakan sakit hati bangsaku saat itu terhadap penjajah, terlepas pro kontra atas diri Pram, aku sangat menikmati tulisannya, cerdas, jujur walau kadang sebal luar biasa karena akhir cerita  tak sesuai harapanku, menggantung dan meninggalkan tanya di pikiran hingga berhari hari lamanya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Tetralogi_Buru

Rotterdam, 10-3-2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s