Jangan nakal, nanti ibu yang di dokter gigi datang……

Kata siapa orang Indonesia selalu bersikap lunak alias tidak bisa tegas terhadap orang Eropa? Semuanya terbantahkan sejak aku tinggal di Belanda dan lebih tau mengenai kebiasaan orang orang sini.

Pertama ibuku terkaget kaget melihat para dokter dan perawat yang begitu ramah tamah terhadap diriku dan orangtuaku. Tetap sabar menghadapiku saat aku dirawat di ruamh sakit hampir dua bulan lamanya, padahal waktu itu aku selalu bersikap ketus terhadap mereka. Kataku saat itu tentu saja mereka bersikap baik karena mereka menjalankan profesinya yang bekerja di bidang jasa alias pelayanan, mana boleh mereka tak melayani dan bersikap judes terhadap paseinnya?

Dan kejadian kemaren pagi saat kami berada di dokter gigi kian mengukuhkan bahwa kedudukan bangsa asing di Belanda setara dengan orang orang penduduk asli negeri ini.

Setelah berkali kali Luc  menghendaki mencari dokter gigi lain, karena dia kecewa dengan  dokter giginya yang lama akhirnya setelah melakukan pencarian dari internet yang cukup lama dia menemukan dokter gigi yang menurut revieuw dari mereka  yang menjadi paseinnya, dia adalah dokter yang memuaskan. Dan yang membuat aku suprise dari membaca namanya dia adalah seorang Indonesia.

Dan benar saja saat Luc menelepon tempat praktek dokter gigi tersebut yang menjawab telepon diseberang sana adalah seseorang yang berlogat Indonesia dan berbahasa belanda ‘broken’ seperti dirimu… kata Luc sambil tertawa panjang.

Dan tibalah hari yang dinanti tiba, kami datang berempat menuju dokter gigi. Dua orang wanita yang aku yakin pastilah mereka orang Indonesia duduk di belakang meja receptionis menyambut kedatangan kami dengan senyum ramah dan mempersilahkan kami duduk di ruang tunggu. Lima menit kemudian kami dipersilahkan masuk ke ruang praktek dokter, disana telah menanti dokter yang masih sangat muda dan asisten dokter yang sudah berumur, keduanya wanita.

Yang dipersilahkan duduk duluan di kursi pasein adalah Luc, sementara kami bertiga duduk di kursi yang ad di ruangan tersebut. Cinta tentu saja tertarik pada wanita tua sang asisten, dia segera turun dari kursinya menghampiri sang asisten yang sedang sibuk membantu sang dokter. Berkali kali aku menariknya kembali untuk duduk tenang tapi tetap saja Cinta kembali berdiri menghampiri dan bertanya ini itu kepada dokter dan sang asisten yang  kini tak terlalu ramah lagi terhadap Cinta, hingga akhirnya sang asisten mengusir kami ke ruang lain. Dan tibalah sang asisten datang kepadaku mempersiapkan diriku untuk duduk di kursi pasein dan sedikit berbasa basi dengan diriku, dari mana asalku, berapa lama aku tinggal disini, dia juga bercerita bahwa dokter yang menangani kami adalah putrinya dan suaminya yang aku baca namanya di internet kini telah pensiun.

Sementara Cinta yang dari tadi berkali kali diperingatkan oleh sang asisten tampat tak senang saat dia bercerita pada diriku, karena otomatis Cinta tak perhatikan lagi oleh diriku hingga dia berteriak cukup lantang untuk menarik perhatian diriku. Dan sang asisten tanpa aku minta telah berdiri dihadapan Cinta dan dengan tegas memperingati Cinta untuk tidak bersikat seperti itu lagi kepada diriku. Ucapnya…jangan sekali kali kamu berteriak terhadap ibumu, kamu harus bersikap baik dan manis terhadap ibumu, kamu harus menghormati ibumu, mengerti kamu nak….

Terpana, merah padam wajahku sekaligus sedikit malu, aku memandang wajah wanita luar biasa dihapapanku. Sikap hormat dan berterima kasih aku lontarkan untuknya.

Pembelajaran dari dirinya tak selesai sampai disitu, saat aku sedang ditangani oleh dokter, Luc dan anak anak dikirim ke ruang disebelahnya yang masih berhubungan dengan ruang  praktek dokter, setelah selesai sang asisten mendatangi Luc diruang sebelah dan aku tersenyum (malu) karena aku mendengar sang asisten menegur Luc yang mendudukan Cinta di kursi putar bundar yang biasanya diduduki dokter saat memeriksa pasein. Katanya, jangan duduk di kursi mahal itu, itu tempat duduk dokter saat memeriksa pasein! Dan aku mendengar suara Luc meminta maaf, dapat aku bayangkan pasti gondok setengah mati, hihihi.

Saat kami akan pulang, aku masih berusaha mendamaikan sang asisten dan Cinta, aku suruh Cinta mengulurkan tangan dan mengucapkan selamat tinggal, yang hanya diindahkan oleh Cinta dengan mengulurkan tangan tanpa senyum dan kata kata.

Tiba di tempat parkir dan masuk mobil rupanya Cinta masih berusaha menguji kesabaran kami, dia protes terhadap Cahaya yang telah duduk di kursi mobil dan berusaha mengambil alih tempat duduk yang telah ditempati, tentu saja kami menegurnya dan menyuruhnya segera duduk manis. Dia masih berusaha merajuk, hingga Luc mengluarkan suara geramnya sambil berkata… Ayolah Cinta, cukup sudah kamu bersikap menyulitkan untuk hari ini, jika masih sulit juga aku akan memanggil ibu yang ada di dokter gigi itu…. untuk menyuruhmu tutup mulut!

Ah ah Luc, hari itu kamu kewalahan menghadapi gadis kecil berumur 3 tahun.

Lihatlah wanita tegas di dokter gigi itu…. tak heran dia telah mendampingi suaminya menjadi dokter gigi yang hebat dan kini dia sedang menuntun putrinya menjadi dokter gigi hebat pula. Wanita hebat itu…. berasal dari malang dan berbahasa Indonesia dengan diriku dengan bangganya!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s